INDONESIA JUGA BISA!!!

Dalam era globalisasi ini, tantangan seorang dokter (terutama dokter di Indonesia) mendapat tantangan multi dimensi, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri dengan semakin dekatnya sistem perdagangan bebas (termasuk untuk kedokteran yang dimulai tahun 2007). Oleh karena itu sistem yang ada dan yang akan berlaku memang mempunyai nilai ekspektasi yang begitu tinggi terhadap peran dokter masa depan.

Peran dokter diharapkan tidak hanya sekedar mengobati pasien sakit, tetapi lebih dari itu dokter harus mampu memberikan warna tersendiri baik dalam merubah paradigma mengenai kesehatan yang salah dimata masyarakat, selain itu juga mampu secara terus menerus mengikuti kemajuan teknologi kedokteran yang senantiasa berkembang.

Dalam perkembangannya, dokter sebagai agent of change juga diharapkan mempunyai kompetensi dan berfungsi sebagai care provider, decision maker, communicator, community leader, dan manager. Kelima ciri diatas dikenal sebagai the Five star doctor.

Dalam dunia kedokteran istilah “Five Star Doctor” sudah tidak asing lagi, di mana Para dokter telah terjebak pada rutinitas profesionalisme yang sempit. Banyak dokter yang akhirnya lebih concern bahwa ilmu kedokteran hanyalah mempelajari segala sesuatu tentang penyakit. Akibatnya kewajiban untuk menyehatkan rakyat hanya sekadar menganjurkan minum vitamin, mineral, tonik, dll, serta mengobati pasien yang sakit. Dokter lupa bahwa selain melakukan intervensi fisik, juga harus berperan dalam intervensi mental dan sosial di tengah masyarakat.

Dokter dalam kiprah seyogianya menerapkan trias peran dokter sebagai agent of treatment, agent of change dan agent of development. WHO tahun 1994 baru mengidentifikasi kiprah ini dan menyebutnya sebagai “The Five Star Doctors” yaitu Community leader, Communicator, Manager, Decision Maker dan Care Provider.”

Menurut PERSI, dokter yang memiliki kriteria sebagai “The Five Star Doctors” harus mampu dan berfungsi sebagai “care provider” (sebagai bagian dari keluarga, pelaksana pealyanan kedokteran komprehensif, terpadu, berkesinambungan, pada pelayanan dokter tingkat pertama, sebagai pelapis menuju ke pelayanan kedokteran tingkat kedua).(2)

Seorang dokter di dalam menjalankan tugas keseharian nya kedepan, tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien nya saja. Dokter dalam kapasitasnya sebagai The Five Star Doctor harus mengambil peran lebih yang meliputi fisik, mental dan sosial sesuai dengan kebutuhan pasien. Mengingat bahwa sistem kesehatan tidak hanya meliputi aspek pengobatan saja, maka dalam setiap menangani pasien seorang dokter sudah harus memastikan bahwa penanganan yang mereka berikan adalah penanganan yang total. Penanganan yang meliputi pengobatan, pencegahan, perawatan dan rehabilitasi kesemuanya dilakukan secara menyeluruh, berkelanjutan dan terintegrasi. (3)

Pelayanan tersebut juga harus dipastikan bahwa benar-benar pada kualitas yang tertinggi Di indonesia. “The Five Star Doctors” harus dapat menjadi “decicion maker” (sebagai penentu pada setiap tindakan kedokteran, dengan memperhatikan semua kondisi yang ikut mempengaruhinya). Dokter sebagai penentu pada setiap tindakan kedokteran dengan memperhatikan semua kondisi yang ikut mempengaruhinya. Karena kesehatan tidak hanya meliputi aspek pengobatan saja, maka dokter sebagai penyelenggara kesehatan tidak bisa lepas dari aspek pembiayaan dan efisiensi yang optimal bagi pasien. Selain itu, seorang dokter yang baik juga harus mempunyai kemampuan untuk memilih teknologi kedokteran yang akan digunakan serta harus bisa memilihkan teknologi yang seperti apa yang akan digunakan sesuai dengan kondisi pasien secara efektif. Oleh karena itu, Five Star Doctor di tuntut untuk mampu secara terus menerus mengikuti kemajuan teknologi kedokteran yang senantiasa berkembang.

Dalam kenyataannya, kesehatan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hal ini menjadi permasalahan yang serius karena membuat pasien kesulitan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik bagi mereka. Sedangkan Pemerintah mempunyai keterbatasan dalam membiayai kesehatan yang memadai bagi masyarakat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang dokter untuk membuat keputusan yang terbaik dari segala kemungkinan yang ada, untuk memberikan kesehatan yang optimal bagi pasien.

Selain itu, dokter juga harus dapat menjadi seorang “communicator” (sebagai pendidik, penyuluh, teman, mediator dan sebagai penasehat keluarga dalam banyak hal dan masalah: gizi, narkoba, keluarga berencana, seks, HIV, AIDS, sters, kebersihan, pola hidup sehat, olah raga, olah jiwa, kesehatan lingkungan).

Oleh karena paradigma kesehatan saat ini sudah bergeser dari paradigma sakit menjadi paradigma sehat. Yang dimaksud dengan Paradima Sehat yaitu Paradigma Sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembangunan kesehatan yang bersifat holistik, melihat masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersifat lintas sektor upayanya lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan dan perlindungan kesehatan Bukan hanya panyembuhan orang sakit atau pemulihan kesehatan.

Jadi, Paradigma Sehat merupakan upaya membuat orang sehat tetap sehat. Sehingga hal yang penting sekarang adalah bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk terbiasa hidup sehat. Sehingga yang pada akhirnya menghindarkan mereka dari resiko sakit. Keterlibatan tiap individu dalam melindungi dan menjaga kesehatan dirinya merupakan hal yang sangat vital, karena terpapar tidaknya terhadap resiko terkena penyakit ditentukan oleh perilakunya sendiri terhadap kesehatan dirinya.

Namun paradigma sehat hanya sebatas fisik saja dan penekanannya masih pendidikan biologi dan kedokteran, belum pada pola makan dan hidup sehat,” ungkap dr Puti dalam acara ”One Day training ’Health Secret” beberapa waktu lalu.(4)

Dokter masa depan harus mampu menjadi komunikator yang baik untuk mempengaruhi individu, keluarga dan masyarakat agar mampu mengadopsi perilaku gaya hidup sehat dan menjadi partner dalam upaya menyehatkan masyarakat.

Selain itu, seorang dokter yang baik harus dapat mengkomunikasikan tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien. Oleh sebab itu, dalam pratik nya, seorang dokter akan melakukan diskusi dengan pasien nya tentang tindakan medis yang akan diberikan. Contoh  dalam pengambilan keputusan sebuah tindakan medis oleh seorang dokter kepada pasiennya, tidak sepenuhnya menjadi keinginan dokter, perlu juga diperhatikan apakah pasien tersebut akan ikut berpartisipasi dalam tindakan medis tersebut atau tidak. Keputusan pasien bisa ikut maupun tidak. Namun hal ini tidak menjadi sesuatu keputusan yang mutlak bagi respon pasien terhadap tindakan medis pasien bagi dokter untuk tidak melanjutkan tindakan medis tersebut, walaupun pasien menolak dokter harus tetap menginformasikan dengan jelas tindakan medis yang akan dilakukan sebab penolakan sebuah tindakan medis dokter oleh seorang pasien dapat terjadi karena ketidaktahuan pasien terhadap tindakan medis yang akan dilakukan terhadapnya. (1)

Kemudian dalam kasus bila jawaban pasien adalah positif atau ikut berpartisipasi dalam tindakan medis yang akan diberikan kepadanya, seorang dokter harus mengeksplorasi kembali keputusan tersebut. Dalam sesi konsultasi antara dokter dan pasien, dapat meninggalkan dampak fisikis dan psikologis pada pasien. Apakah pada saat mengkonsultasikan tindakan medis yang akan diberikan tersebut akan menjadi beban fisik dan emosional karena harus mengambil tindakan medis yang akan di ambil. Hal ini bisa dikurangi dengan mendiskusikan resiko serta efek samping dan dengan bagaimana dokter tersebut akan memperlakukan pasiennya. Selain itu, agar pasien tidak mengalami beban fisik terutama beban emosional dalam pemilihan tindakan medis yang akan dilakukan maka saat melakukan penentuan pilihan tindakan medis, dokter harus lebih fokus pada memberikan motivasi dan respon untuk meminta pasien menjadi partisipan, berikan pasien pengertian dan pemahaman, serta evaluasi terhadap aspek yang akan ditimbulkan dari tindakan medis tersebut.

Namun hal ini masih kurang dalam kedokteran di Indonesia sebagai mana pasien yang berobat ke luar negeri meskipun menggunakan bahasa yang berbeda dengan dokternya, dapat berkonsultasi hingga satu jam. Sedangkan di Indonesia, di mana pasien dan dokter sama-sama memakai Bahasa Indonesia, konsultasi dan pelayanan yang diberikan dokter kepada pasien di ruang kerjanya paling lama hanya berlangsung sekitar 15 menit. (5)

Kemudian, seorang dokter juga harus mampu menjadi seorang “community leader” (membantu mengambil keputusan dalan ikhwal kemasyarakatan, utamanya kesehatan dan kedokteran keluarga, sebagai pemantau, penelaah ikhwal kesehatan dan kedokteran keluarga). Seorang dokter harus dapat membantu mengambil keputusan dalam hal ikhwal kemasyarakatan, utamanya kesehatan keluarga dan juga sebagai pemantau dan penelaah kesehatan keluarga. Tiap Daerah mempunyai karakteristik yang berbeda, mengutip Hipokrates yang pernah berkata “Barang siapa yang ingin melakukan pelayanan dan penelitian kedokteran dengan baik dan seksama, pertama-tama ia harus memperhatikan musim, (cuaca) pada tahun itu. Apabila ia sebagai orang asing yang sedang mendatangi sebuah kota, perhatikanlah tentang situasi, air yang digunakan penduduknya, cara hidupnya, dan apa yang mereka kerjakan”. Seperti yang di ungkapkan dalam sambutannya pada acara Sumpah Dokter Periode FK UII tanggal 1 Februari 2010, bahwa para dokter harus mampu menguasai aspek multidimensional dalam masyarakat. Ada aspek sosial, budaya, ekonomi, hukum, politik dan sebagainya yang harus dikuasai seorang dokter yang terjun ke masyarakat.

Kebutuhan dan permasalahan seluruh masyarakat baik yang ada di kota maupun di desa, tidaklah sama. Dengan memahami ketergantungan mereka pada fisik dan lingkungan sosial serta memahami luasnya dari tiap masalah atau resiko kesehatan yang ada, maka seorang dokter tidak akan secara mudah merawat pasien yang meminta bantuan tanpa memiliki ketertarikan terhadap apa-apa yang terjadi dikomunitas masyarakat tersebut. Sehingga dengan demikian dokter itu akan bisa melakukan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Terakhir, seorang dokter harus bisa menjadi “manager” (ia berkemampuan untuk berkolaborasi dalam kemitraan, dalam ikhwal penanganan kesehatan dan kedokteran keluarga). Seorang dokter berkemampuan untuk berkolaborasi dalam kemitraan pada penanganan kesehatan dan kedokteran keluarga.

Untuk membawa semua fungsi diatas secara optimal, maka sangat penting artinya seorang dokter untuk mempunyai ketrampilan manajerial yang bagus. Dengan kemampuan tersebut, seorang dokter akan mudah dalam melakukan inisiasi perubahan dari setiap informasi yang didapat, agar nantinya bisa membuat keputusan yang lebih baik. Kemampuan ini juga diperlukan manakala bekerja dalam tim dengan berbagai multidisiplin ilmu. yang bersama-sama bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan dan pengembangan sosial.

Dengan adanya Five Star Doctor, masyarakat lebih diperhatikan sehingga memungkinkan penanggulan sebuah penyakit akan lebih baik dibandingkan dengan dokter yang hanya memberikan penanganan medis dan resep obat saja. Oleh karena itu, dalam penerapan Five Star Doctor di Indonesi ini mutlak dilakukan karena untuk mencapai kesejahteraan kesehatan masyarakat yang lebih baik sesuai dengan tujuan pemerintah Indonesia.

Sayangnya, sarana untuk melatih kita menjadi five star doctor saat ini terbilang masih kurang, karena kelima kemampuan dalam five star doctor tersebut tidak cukup hanya dengan mempelajari teorinya saja, melainkan sebuah keterampilan abstrak atau soft skill yang hanya bisa didapatkan dan dikembangkan dengan pengalaman. Akan terasa lebih berat jika penyelenggara pendidikan kedokteran tidak bisa menjembatani mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan mereka ini, dan tidak ada inisiatif dan usaha dari mahasiswa itu sendiri untuk mengembangkan potensi mereka.

Setidaknya pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan kualitas dokter-dokter sekarang dengan mengadakan uji kompetensi, yang didalamnya juga terdapat persoalan dari berbagai aspek, tidak hanya kondisi fisik pasien, tetapi juga keadaan holistik pasien tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1)      Kusnadi, 9 Oktober 2010, Inform Consent: Pelaksanaan Share Decision-Making Dalam Pelayanan Kesehatan, Semarang, http://eprints.undip.ac.id/

2)      PERSI, 13 Agustus 2002, Profil Five Star Doctor (Dokter yang Baik): Wacana Abadi Bagi Para Dokter, Jakarta. http://www.pdpersi.co.id/

3)      Prastyawan Andi, February 02, 2006. The Five Stars Doctor, Surabaya, cmps-media.com

4)      Puti, 15 November 2006, Saatnya Merubah Paradigma Sehat, Tanjung Jabung Barat, http://mhs.stiki.ac.id/

5)      UII humas, 1 Februari 2010, Sumpah Dokter FK UII, Yogyakarta, http://www.uii.ac.id/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s